Langsung ke konten utama

SOAL SEME'AN DAN KLERA

Ada 5 kampung nelayan di pesisir pantai kenjeran : larangan, sukolilo, tambak deres, kejawan lor dan nambangan-cumpat. Ada 6, kalau misal tambak wedi masuk juga.

Di Kampung nambangan,
ada yg unik.
Masuk bulan MAULID, seluruh jalanan dipenuhi penjor atau umbul2 dari kerudung. Sepanjang jalan penuh dengan kerudung yg diikat ke bambu kemudian bambu2 itu dipasang melintang di atas jalanan kampung selama 1 bulan penuh.


Tak ada kampung lain di wilayah ini yg mempraktekkan tradisi maulud seperti itu.

Kalau dibandingkan dengan kampung lain, kampung ini kultur masyarakatnya memang lebih relijius. Terlihat dari cara berpakaian mereka yg lebih tradisional. Para Pria lebih banyak memakai sarung atau perempuan2 memakai jilbab utk aktifitas kesehariannya.

Dan secara dialek juga logat bahasapun kampung ini punya keunikan. Meskipun generasi sekarang, karena pergaulan yg meluas juga menyesuaikan dgn kultur surabaya secara umum,mungkin secara sadar tak lagi menggunakannya.

Contoh, alih2 menggunakan kata SARAPAN, warga nambangan menggunakan kata SEME'AN. iya bener, seme'an itu sarapan. Makan pagi. Breakfeast.

Kata orang pertama, ESON memang terdengar lebih umum. Beberapa kampung di wilayah kenjeran jg menggunakannya.

Tapi, anda tahu arti kata ANDAR?
ANDAR itu artinya ngomong.
Contoh : andar opo jare !!!
Artinya : ngomong apa sih !!!

Kampung yg unik, memang.

Saya curiga kampung ini dipengaruhi bukan oleh budaya madura, seperti asumsi umum kalau kenjeran identik dgn madura, tapi justru oleh budaya gresik.

Di buku syi'ir KH. MOENTAWI saya temukan kata lain yang khas gresik, DAK. DAK bisa jd kependekan dari TIDAK. Seperti ENGGAK kemudian dipotong menjadi GAK.
DAK dan GAK memang beda 1 huruf. Tapi DAK, Setahu saya lebih sering diucapkan oleh org gresik drpd org surabaya.


Dan kata SEME'AN, kalau refrensi dari google ini valid, juga digunakan, dengan arti yang 100% sama, oleh masyarakat sragen.
Sragen, jawa tengah !!!

Sek talahh ....
Iki piye critane wong sragen isok tebbus nambangan ?!!

Balik ke soal pengaruh budaya gresik. Secara geografis letak kenjeran memang tak seberapa jauh dari gresik. Apalagi jika ditempuh lewar jalur laut. Kampung nelayan gresik yg saya curigai mempengaruhi kultur di nambangan adalah kampung lumpur. Kampung nelayan yang terletak di sebelah utara alun2 kota gresik.


Tapi itu cuma asumsi saya yang awam. Yg samasekali tak punya basic sejarawan.

Yg saya ingat, dulu sering sekali ada nelayan gresik yg kadang melaut mencari ikan sampai ke area kenjeran. Bahkan beberapa nelayan menjadikan kawasan ini sebagai area transit ataupun area utk menambatkan perahunya beberapa waktu kemudian turun ke darat sekedar mencari tambahan logistik utk melaut.

Bahkan beberapa orang nelayan gresik ada yg menikah dengan warga kenjeran. Kejadian ini bisa menjadi bukti bahwa mungkin interaksi antara lumpur-kenjeran memang sudah terjalin lama.

Toh, laut memang terkenal menjadi jalur perdagangan sejak jaman dahulu kala.

Masih soal serap-menyerap kata/bahasa.
Ada satu lagi kata unik yg juga menjadi ciri khas sebuah kampung di wilayah ini. Kali ini kata unik itu digunakan oleh masyarakat kampung SUKOLILO.

Kata KLERA
Dalam penggunaannya, kata ini memang lebih bernada negatif. Karena arti kata ini mengandung makna KESAL, mangkel, marah dan semacamnya.

Contoh : tahhh KLERA !!!
hampir mirip : aduhh PAYAH !!!

Karena penasaran, saya pernah mengugel arti kata ini. Yang muncul sungguh mengejutkan.


Masyarakat lain yg menggunakan kata KLERA sebagai bentuk UMPATAN/KEKESALAN adalah orang MINANG !!!

Hop hop hop....
Kok minang ?!!!
Tambah adoh manehh iki !!!

Meskipun ada sedikit perubahan dalam pengucapan. Orang minang kalau mengumpat ngomong KALERA. klo sukolilo nadanya agak lebih cepat, KLERA.

menurut gugel, klera atau kalera berasal dari kata KOLERA. Sebuah pandemi yg menyebar beberapa abad lampau.

Terus piye sejarahe kok KLERA ini bisa sampai ke daratan jawa spesifik jatim spesifik surabaya spesifik lagi kampung cilik nang kenjeran?

Mbuuhhh... aku gk ngerti ceritane.
Tahhh, payah esoonnn !!!

#kampungkenjeran #kotasurabaya #kejawanlor #nambangancumpat #sukolilosurabaya #jawatimur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKHIVE kulonuwon di SURABAYA

Kemudian kita taruh rak2 buku itu dipojokan2 ruang publik agar masyarakat bebas membaca dan mengakses pengetahuan sembari mereka mengantre atau nyantai menunggu sesuatu. Begitulah ... Seseorang atau sebuah komunitas punya ide yang nampaknya utopis tapi persetanlah ... Ide harus di wujudkan. Meskipun nanti akhirnya rak2 itu hanya menjadi semacam pemanis atau semacam formalitas sebuah instansi agar dipandang berbudaya. Ya ... Konsep menempatkan rak2 buku lengkap dengan buku2 bacaan ringan di ruang publik memang  bukan hal baru. Lalu apa yg membedakan #bookhive dgn semisal perpus gratis yg digagas pak sutopo tukang becak di jogja, pak sugeng hariyono tukang tambalban di lampung, dan fauzi tukang jamu dari sidoarjo, atau lapak2 baca gratis semacam ALS ( ALIANSI LITERASI SURABAYA) yg melapak dibeberapa spot taman kota surabaya dengan deg2an karena seringkali berhadap2an dengan aparat keamanan karena dianggap mengganggu estetika taman kota. Apa bedanya? Apa beda es...

Ku tunggu BEKAS mu.

Karena aku cuma bisa membeli buku bekas, seringkali aku terlambat mengetahui kalo ternyata sebuah buku yang lagi booming itu kadang memang bagus. Tak selalu murahan ceritanya, seperti perkiraan ku. Dimulai dari saman, yang konon, adalah tonggak novel kontemporer indonesia, yang bahkan ketika kemunculan nya di kupas beberapa halaman di koran kompas. Meskipun itu tak bisa di lepaskan dari kedekatan ayu utami dengan sebuah komunitas yang, konon, berafiliasi dgn penerbit kompas sendiri. Dan juga terlepas dari kontroversi2 yang mengikuti kehadiran saman di dunia sastra indonesia. Saman klo tak salah terbit pertamakali tahun 1994. dlm pembukaan nya, ayu utami menyebut novel ini adalah sebuah fragmen dari sebuah novel lain. itu 4 tahun sebelum reformasi. Kemudian reformasi datang dan mungkin -ini cuma analisa bodoh ku- novel yang lain itu tak tergarap karena peta politik berubah. Kebebasan berbicara datang. Semua bebas berekspresi. lalu ayu membuat novel lain yg berlatar belakang reformasi...